Pages

20 January 2009

Me want that fancy little house *garuk-garuk tembok*


Rumah itu lucu banget. Kecil dan sepertinya pas untuk kami bertiga. Tapi mau gimana lagi. Harus dimengerti bahwa ownernya jual mahal xixixi. Ya sudah lah. Kalau memang dia jodohku, pasti kami akan bertemu.


Mau ga mau kami memang harus melalui proses. Untuk belajar. Dipikir-pikir, itu adalah berkah loh. Seperti juga proses pacaran sampai menikah yang panjang dan lama dan ribet. Untuk memulai keluarga ini kami juga harus berproses lagi. Belajar untuk berhemat. Belajar untuk sabar. Belajar untuk menjadi cerdik. Beruntung kita bukan anak konglomerat yang sekali kedip kemauannya langsung terpenuhi. Aku cuma anak almarhum kepala pengeboran sebuah oil company yang tidak meninggalkan warisan apa-apa. Ah, hampir lupa. Ayah telah meninggalkan warisan berharga. His fighting spirit. Sesuatu hal tak terlihat yang selalu ketika aku putus asa, membuat aku menyemangati diri "bapak aja bisa, masa aku enggak?".


Gapapa kita ga punya rumah. Gapapa kita musti menumpang dari satu atap ke atap yang lain. Memang harus ada airmata dan keringat yang menetes disetiap langkah kita. Supaya ada jejak yang tertinggal. Supaya kita bisa menghargai apa yang kita dapatkan dari proses kita. Bukan begitu bukan, partner?


Beberapa tahun yang lalu, waktu hape Denny jadi korban banjir, aku jadi harus berproses memanfaatkan teknologi seadanya. Henponku cuma nokia gendut yang amat sangat kalah canggih dibanding henpon teman-temanku (yang sayang sekali henpon secanggih itu cuma buat nelpon dan sms). Akhirnya musti putar otak ngulik om gugel nyari software buat ym-an. Waktu itu ym lwt hp belom ngetop. Akhirnya dapet. Dan kita bisa berkomunikasi dgn murah meriah lagi.


Moral of the story : orang miskin itu musti cerdik. Dan postingan ini dibuat memang untuk menghibur diri wekekeke mari berhenti berkeluh! Let's fight! Yosh!

PS. Setelah membaca posting ini, kau pasti berfikir jadi miskin itu menyenangkan, bukan?

0 comments:

Post a Comment