Hari ke-sebelas bersama Kitara. Aku semakin tertekan. Bukan tertekan dengan keberadaan Kitara, tetapi pada keharusan-keharusan yang mau ga mau harus mau di dengarkan.
Setiap kali si eyang mulai ikut bicara, perasaan ini rasanya ketusuk-tusuk. Sesak nafas. Aku seperti virus HIV yang diamati dari balik mikroskop.
Aku merasa bukan aku. Hidupku berubah. Bahagia ada Kitara, tapi sepertinya aku rindu kehidupan lamaku.
0 comments:
Post a Comment